Menjadi tukang ojek online kadang membuat saya merasa seperti sedang hidup dalam serial komedi tanpa naskah. Setiap hari selalu saja ada kejadian baru yang tidak pernah saya prediksi. Hari ini pun sama, bahkan rasanya jauh lebih unik daripada biasanya. Dari pagi buta sampai menjelang sore, saya bertemu dengan berbagai tipe pelanggan yang membuat saya berpikir, “Apa ini memang dunia yang saya tinggali, atau saya tidak sengaja masuk ke semesta lain?” Semua pengalaman itu akhirnya saya catat, bukan hanya sebagai pengingat, tetapi juga sebagai cerita lucu yang mungkin bisa dinikmati siapa pun yang membacanya nanti.
Pengalaman pertama dimulai sejak matahari bahkan belum muncul sempurna. Saya mendapat orderan dari seseorang yang meminta dijemput di depan toko alat pancing. Saat saya tiba, yang keluar ternyata seorang pria dengan helm lengkap dan membawa aquarium kecil berisi belut hidup. Ia meminta saya membawakan aquariumnya sambil ia duduk di belakang. Yang membuat aneh bukan barang bawaannya, tapi instruksinya: “Mas, tolong pelan banget ya, belut saya mabukan kalau goyang sedikit.” Saya yang biasanya ngebut untuk efisiensi waktu, hari itu harus mengendarai motor seperti siput, menjaga agar belut itu tidak mengalami ‘motion sickness’. Perjalanan kami memakan waktu dua kali lebih lama, tapi pelanggan itu tersenyum puas seolah saya baru saja menyelamatkan nyawa keluarganya.
Tak lama kemudian, saya mendapatkan order lain dari seorang pelanggan perempuan yang kelihatannya baru bangun tidur. Ia meminta diantar ke minimarket terdekat, padahal jaraknya hanya sekitar 300 meter. Awalnya saya berpikir dia sakit atau ada alasan penting lain. Namun setelah sampai, dia hanya turun, membuka helm, dan berkata, “Mas, tunggu ya, saya cuma mau beli cemilan.” Setelah lima belas menit, ia keluar membawa dua bungkus keripik dan sebotol minuman ringan, lalu naik lagi ke motor. Saya pun mengantarnya kembali ke rumahnya — jarak yang sama dengan perjalanan pergi tadi. Sambil tersenyum polos, ia berkata, “Daripada jalan, nanti capek.” Saya hanya bisa mengangguk sambil tertawa kecil dalam hati.
Kejadian berikutnya lebih lucu lagi. Seorang bapak-bapak memesan ojek ke alamat yang ternyata adalah rumahnya sendiri. Ketika saya tiba, ia memanggil saya dari teras sambil memegang handuk di pundaknya. Dengan nada datar ia bilang, “Mas, saya lupa parkir motor saya di mana tadi malam. Tolong anterin saya muter komplek nyari.” Jadilah saya dan si bapak melakukan pencarian motor hilang seperti dua detektif amatir. Setelah hampir 20 menit berkeliling, motor itu akhirnya ditemukan… terparkir rapi di depan warung bakso lima rumah dari tempat tinggalnya. Bapaknya hanya tertawa dan berkata, “Waduh, saya lupa kalau tadi malam ngidam bakso.” Saya cuma tersenyum pasrah sambil mencatat kejadian ini sebagai salah satu pencarian paling absurd dalam karier saya.
Belum selesai dengan keanehan hari itu, saya mendapat order dari seorang anak muda yang terlihat sangat panik. Ia meminta diantar ke kantor kecamatan segera. Sepanjang perjalanan ia gelisah, sehingga saya pikir ada urusan penting yang benar-benar mendesak. Namun ketika saya menanyakan apakah semuanya baik-baik saja, ia menjawab, “Saya nggak boleh telat mas. Saya mau balapan sama temen saya siapa yang paling cepat bikin KTP.” Saya sempat ingin memastikan apakah ia bercanda, tapi melihat wajahnya yang serius seperti atlet lomba lari, saya memilih fokus mempercepat perjalanan. Ketika tiba, ia langsung turun dan berlari ke dalam gedung, seakan sedang memperebutkan medali emas. Begitulah, bahkan urusan administratif pun bisa berubah menjadi kompetisi.
Tak lama setelah itu, saya mendapat pelanggan anak sekolah yang membawa tas besar seperti hendak berpergian jauh. Dia meminta saya mengantarnya ke sekolahnya yang jaraknya lumayan jauh. Ketika saya bertanya kenapa tasnya sebesar itu, dia menjawab, “Hari ini saya presentasi tentang hobi, mas.” Saya penasaran, tapi tidak mau banyak bertanya. Namun ketika sampai dan ia membuka tasnya, barulah saya tahu bahwa isi tas itu adalah koleksi batu akik ukuran jumbo. “Ini semua punya bapak saya, katanya harus dibawa semua biar lengkap.” Melihat itu, saya hanya bisa tertawa kecil, membayangkan bagaimana ia akan melakukan presentasi sambil mengangkat satu per satu batu yang bobotnya tentu tidak ringan.
Sebelum saya sempat beristirahat, datang lagi pesanan dari pelanggan yang tidak kalah unik. Kali ini seorang mahasiswa yang kelihatannya terburu-buru ingin pergi ke kampus. Namun di tengah perjalanan ia meminta saya berhenti di pinggir jalan, tepat di depan penjual roti bakar. Ia berkata, “Mas, saya ujian skripsi hari ini, jadi saya harus sarapan dulu. Biar lebih fokus katanya.” Lalu ia turun dan memesan roti bakar tanpa sedikit pun merasa aneh telah membuat saya menunggu. Setelah roti datang, ia duduk di pinggir motor saya sambil makan dengan santai. “Santai mas, saya masih punya waktu kok,” ujarnya. Padahal, sebelum berangkat tadi ia bilang sudah sangat terlambat. Saya hanya bisa menghela napas sambil menikmati hiburan gratis ini.
Kejadian terakhir yang menutup hari saya datang dari seorang pelanggan pria yang memakai jaket tebal meskipun cuaca panas terik. Ketika naik ke motor, ia langsung meminta saya mempercepat perjalanan karena tidak tahan panas. Namun lima menit kemudian ia mengetuk bahu saya dan berkata, “Mas, pelan sedikit, saya ngeri kalau ngebut.” Tidak lama setelah itu, ia kembali meminta, “Mas, bisa lebih cepat?” dan beberapa menit kemudian, “Mas, jangan terlalu cepat.” Tradisi tarik-ulur kecepatan itu berlangsung sepanjang perjalanan sampai saya bingung harus menyesuaikan dengan keinginannya yang berubah setiap beberapa detik. Ketika sampai tujuan, ia tersenyum dan berkata, “Thanks mas, pas banget kecepatannya.” Dalam hati saya hanya bisa berkata, “Kalau itu sudah pas, saya udah bingung definisi ‘pas’ yang sebenarnya.”
Begitulah hari saya sebagai tukang ojek online yang penuh dengan pelanggan unik dan cerita-cerita tak terduga. Kadang saya merasa pekerjaan ini bukan hanya tentang mengantar orang dari satu titik ke titik lain, tetapi juga tentang menyaksikan berbagai sisi kehidupan manusia yang tidak saya temukan di tempat lain. Semua pengalaman aneh ini pada akhirnya membuat saya belajar untuk tetap sabar, tetap tersenyum, dan memahami bahwa setiap orang punya dunia dan kebutuhannya masing-masing, betapapun anehnya. Setidaknya, semua ini memberi saya cerita menarik untuk ditulis, dan mungkin bisa membuat siapa saja yang membaca ikut tertawa atau menggelengkan kepala seperti saya hari ini.
Rekomendasi Situs Game Online 2025